Sabtu, 28 Oktober 2006
Home »
» Jalan-jalan di Oxford
Jalan-jalan di Oxford
Sedang sibuk menyelesaikan tesis, tiba-tiba aku diundang lokakarya "Conflict, Violence and Displacement in Papua" ke Refugee Studies Centre (RSC), St Anthony College, di Oxford tanggal 26 Oktober. Awalnya ragu apakah waktuku cukup untuk menyiapkan makalah dalam waktu dua minggu. Tapi Liem Soie Liong, pendiri TAPOL London dan penulis buku The Obliteration of a People, meyakinkanku bahwa
Related Posts:
Debat King dan Aspinall tentang Identitas Papua (2)Pada posting sebelumnya, debat Peter King dan Ed Aspinall menyangkut genocide dibahas. Artikel ini mengurai perbedaan pandangan King dan Aspinall tentang sikap orang Papua terhadap Indonesia dan politik identitas yang terbang… Read More
Pemekaran demi Keutuhan NKRI? (Bagian 1)Pemekaran provinsi di tanah Papua, pertama, jelas-jelas melanggar Pasal 76 UU 21/2001 tentang Otsus dan menunjukkan bahwa banyak pembesar Republik ini tidak tertib hukum. Kedua, dari pelaku, proses, dan argumentasinya, juga j… Read More
Wacana Konspiratif Intelektual PapuaJaksa Agung RI melarang buku Tenggelamnya Rumpun Melanesia (Yogyakarta, Galang Press, 2007) karya Sendius Wonda karena kejaksaan menganggapnya bisa ‘mengganggu ketertiban umum’. Kalau kita cermati substansinya, secara eksplis… Read More
Pemekaran Meluaskan Medan Korupsi (Bagian 2)Pada artikel bagian 1 sebelumnya, saya membahas pemekaran dari aspek pelaku, argumentasi dan orientasi politik elit-elit di Jakarta. Pada bagian 2 ini, saya memahami pemekaran dari sudut pandang pelaku, argumentasi lokal dan … Read More
Debat King dan Aspinall tentang Genocide (1)Peter King dan Ed Aspinall terlibat debat, di antaranya, tentang dua isu yakni genocide dan identitas Papua-Indonesia di Policy and Society, dengan judul Asia Early this Century: Contested Polities and Mentalities. Sebelum me… Read More
0 komentar:
Posting Komentar